Kumpulan lagu terbaik

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka         jpnn.com ,  JAKARTA  - MM Restu Hapsari atau yang lebih akrab disapa ...

Rabu, 13 Maret 2019

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka


    
Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka - JPNN.COM
jpnn.comJAKARTA - MM Restu Hapsari atau yang lebih akrab disapa Restu adalah perempuan kelahiran Klaten, 2 Mei 1973. Restu dibesarkan dalam sebuah keluarga guru. Ayah dan ibunya adalah guru sekolah dasar negeri di Jawa Tengah.
Sejak mengenyam pendidikan dasar, orang tuanya selalu mendorong Restu untuk aktif berorganisasi. Di sekolah menengah pertama hingga menengah atas, Restu selalu masuk dalam kepengurusan organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan juga dikenal sebagai murid yang berprestasi.
Setelah menamatkan SMA, Restu melanjutkan pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Jawa Tengah. Selama menjadi mahasiswa, Restu aktif berorganisasi baik di internal kampus maupun eksternal kampus.
Dalam organisasi internal kampus, Restu bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ia juga aktif di beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa. Sedangkan di eksternal kampus, Restu bergabung dan aktif dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Surakarta hingga menjabat sebagai Ketua Presidium Periode 1997-1998. Saat itu, suasana politik menuju reformasi berlangsung. Keterlibatannya dalam dunia organisasi, membuat Restu sudah dikenal sebagai sosok aktivis muda sejak mahasiswa.
Komitmen dan passionnya terhadap organisasi terus menuntunnya pada relasi pergaulan yang semakin luas baik dengan berbagai pihak. Restu mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2002-2004. Kiprah selanjutnya, tidak hanya dalam berorganisasi saja, selanjutnya Restu memilih untuk terjun ke dunia politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan.
Restu mengawali karir politiknya di PDI Perjuangan di Departemen Pemuda dan Olahraga DPP PDI Perjuangan pada periode 2015-2010 di bawah bimbingan Maruarar Sirait, tokoh muda PDI Perjuangan. Berkat ketekunan dan berbagai prestasinya, Restu dipercaya memegang jabatan-jabatan penting di struktural dan sayap Partai PDI Perjuangan yakni sebagai Wakil Sekretaris BP Pemilu Pusat PDI Perjuangan 2016-2018.
Restu juga menjabat sebagai Sekretaris Balitbang Pusat PDI Perjuangan 2018-2020, Tim Kampanye Nasional Jokowi & Jusuf Kalla tahun 2014, dan sekarang juga di Tim Kampanye Nasional Jokowi & Ma'ruf Amin, serta juga sebagai Sekretaris Jenderal DPP Taruna Merah Putih sayap partai PDI Perjuangan periode 2016-2020.
Selain aktif berpolitik, Restu juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, di antaranya Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) KAJ, Yayasan Hapsari yang bergerak dalam bidang pemberdayaan, trainer, serta konsultan manajemen sumber daya manusia, serta di beberapa kegiatan bersama para perempuan. Di dalam aktivitas perempuan antara lain juga sebagai Divisi Jaringan dan Avokasi Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) yang beranggotakan para perempuan lintas partai untuk kerja-kerja pemberdayaan, edukasi dan politik bagi perempuan.
Berbagai kegiatan lintas agama juga ditekuni sebagai penggiat kerukunan antar-umat beragama dan menebar semangat bhinneka tunggal ika. Restu juga rutin bersama komunitasnya menyelenggarakan kaderisasi lintas iman bagi anak-anak muda di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Hal ini tidak bisa dilepaskan karena kecintaannya terhadap Republik Indonesia yang memang beragam. Dan dulu mengawali pekerjaannya di Jakarta juga menggeluti kegiatan lintas iman di Institute Pluralisme Indonesia (IPI) dari tahun 2000 sampai dengan 2010.
Seiring dengan tanggung jawab yang begitu besar dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan politik, Restu kadang diutus mengikuti berbagai kegiatan internasional. Di antaranya Comparative Study for Student Movements in Asia di Singapura, Short Course: Gender Sensitivity di Chiang Mae, Thailand hingga konferensi politik internasional seperti Visit Study Social Economy-Politics di Cina dan Strategic Political Communication for Candidate di Seam Rap, Cambodia.
Melalui segudang pengalaman yang dimilikinya, kini Restu mantap melangkah dan memutuskan maju sebagai Caleg PDI Perjuangan Nomor Urut 3 di Dapil DKI Jakarta III yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
Meskipun banyak orang mengatakan bahwa DKI Jakarta III merupakan dapil neraka, menurut Restu ini menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. Ia telah mempertimbangkan secara matang peluang dan tantangan sehingga membuatnya secara sadar dan yakin memutuskan untuk maju DPR RI di dapil ini.(fri/jpnn)

Jumat, 22 Februari 2019

Membangun integritas Hamba Tuhan dalam Pelayanan Persekutuan dan Gereja


Membangun Integritas Hamba Tuhan dalam Pelayanan

1. Asal Pelayanan: Allah (1 Timotius 1:12; 1 Tesalonika 2:4)

Suatu pelayanan yang murni harus berasal dari Allah, bukan dari manusia (2 Korintus 5:18; 1 Timotius 1:12). Allah menyerahkan pelayanan hanya kepada orang-orang yang telah menjadi milik-Nya, dalam arti sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Kalau ada orang yang belum menjadi milik-Nya yang terlibat dalam pelayanan, maka pelayananya tidak akan diterima Allah (Yesaya 64:6). Jadi, suatu pelayanan terjadi atas inisiatif Allah. Oleh karena itu, seorang pelayan pertama-tama bertanggung jawab penuh kepada Allah. Dengan kata lain, pelayanan bukan untuk menyenangkan manusia tetapi untuk menyenangkan Allah (1 Tesalonika 2:4; Galatia 1:10).

2. Dasar Pelayanan: Karakter / Sikap Hati (1 Samuel 16:7; Roma 12:1)

Dalam pelayanan, kita tidak pernah dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak ada pada kita. Kita tidak boleh mengabaikan karakter; kalau kita abaikan, berarti kita meninggalkan dasar pelayanan. Ini sebabnya Allah menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan pelayan-Nya. Misalnya: Yusuf (13 tahun), Musa (80 tahun), Paulus (3 tahun). Tanpa karakter, pelayanan hanyalah sebagai aktivitas keagamaan belaka, atau lebih buruk lagi, sebagai bisnis rohani. Yesus menyebut orang Farisi sebagai kemunafikan. Dia tahu bahwa orang Farisi lebih memperhatikan reputasi mereka daripada karakter mereka, dan bahwa pujian manusia lebih menarik perhatian mereka daripada perkenanan Allah. Tidak akan ada seorang pun yang dapat melayani Tuhan sekaligus bersandiwara. Harus ingat peristiwa Ananias dan Safira.

3. Motivasi Pelayanan: Kasih (Matius 22:37-39)

Ada 3 alasan seseorang mau mengerjakan suatu pekerjaan:
  • Kewajiban / keharusan -> Budak
  • Keuntungan / imbalan -> Karyawan
  • Kasih -> Pelayanan Tuhan
Pelayanan terlalu suci untuk dimotivasi dengan keuntungan duniawi dan terlalu sukar jika dimotivasi dengan kewajiban, hanya kasih kepada Allah dan manusia yang dapat membuat kita bertahan dalam pelayanan. Hanya kasih yang dapat membuat seorang hamba Tuhan bisa mengutamakan orang lain dan membuat tidak memanfaatkan orang lain untuk tujuan-tujuannya sendiri. Kasih juga dapat mencegah seorang hamba Tuhan menjadi diktator. Kewajiban atau tugas dapat dipenuhi dengan sukacita jika ada kasih dalam diri pelaksana. Kasih itu bukan sekedar perasaan yang dangkal atau sekedar ucapan, tapi merupakan hasil pemahaman yang dalam. Pelayanan Paulus dipenuhi dengan kasih Kristus (2 Korintus 5:14) dan dorongan kasih inilah yang membuatnya bertahan dalam pelayanan ketika segala sesuatunya menjadi sukar. Tanpa kasih, akan ada banyak halangan dalam pelayanan. Kita mungkin tidak tahu tentang teori komunikasi yang baik, kita dapat membangun jembatan dan meruntuhkan tembok pemisah, sehingga berita kita dapat disampaikan.

4. Sifat Pelayanan: Melayani (Matius 20:20-28)

Dalam gereja mula-mula, hamba Tuhan adalah seorang pelayan, bukan sekedar petugas. Orang Romawi dan Yunani menganggap bahwa pelayan adalah seorang yang tidak punya arti dan tidak penting, yang melakukan segala sesuatu bagi orang lain yang lebih penting. Yesus dan para rasul tahu akan hal ini, tetapi mereka tetap melihat diri mereka sebagai pelayan, karena hal tersebut benar.
Jangan jadi pelayan Tuhan, jika:
  • Orang yang tidak mau bekerja dan melayani orang lain.
  • Orang yang hanya ingin menikmati perhatian dari banyak orang dan ingin terkenal.
Yesus mengosongkan diri-Nya dan menjadi seorang hamba bagi manusia yang hina, Dia datang untuk melayani. Apakah kita lebih besar dari Dia?

5. Ukuran Pelayanan: Salib (1 Petrus 2:18-25; Ibrani 12:1-4)

Pelayanan tanpa pengorbanan sama sekali bukan pelayanan yang sebenarnya. Dalam Markus 10:45, Yesus memparalelkan dua hal: untuk melayani dan untuk memberi. Hubungannya jelas, yaitu dalam pelayanan ada harga yang harus dibayar. Pelayanan tanpa pengorbanan tidak akan mencapai hasil apa-apa. A.W. Tozer memperingatkan bahwa ada salib baru yang telah memasuki kekristenan. Salib itu tidak punya kaitan dengan penderitaan, pengorbanan, dan kematian. Salib itu tidak membunuh orang berdosa, tetapi hanya mengalihkan hidupnya kepada hidup yang lebih bergengsi, lebih kaya, dan menonjolkan harga dirinya.
Tujuan mereka melayani adalah untuk melihat apa yang dapat mereka peroleh, bukan apa yang dapat mereka berikan. Biasanya orang-orang ini cepat mengeluh dan cepat puas atas apa yang telah mereka berikan (2 Korintus 11:23-32).

6. Tujuan Pelayanan: Kemuliaan Allah ( Efesus 1:12; 1 Korintus 10:31)

Segala sesuatu yang Allah lakukan, pada akhirnya adalah untuk kemuliaan-Nya. Tujuan karya Allah adalah pujian kemuliaan-Nya (Efesus 1:6 , 12, 14). Pelayan Tuhan harus memiliki perspektif yang kekal itu. Kalau tidak, ia akan terjebak oleh tujuan sementara, yang hanya akan membawa kepada pelayanan tubuh yang sibuk dan paslu, yang berlindung dibalik jadwal dan statistik. Tuaian bukanlah pada akhir pertemuan, melainkan pada akhir jaman. Karena itu berbahaya, jika terlalu kaku dan fanatik dalam mengevaluasi pelayanan saat ini. Satu-satunya tujuan yang dapat bertahan pada saat penghakiman adalah saya melayani untuk kemuliaan Allah.
Bila kita mempunyai tujuan seperti ini, pujian tidak akan membuat kita tinggi hati dan kritikan tidak akan melemahkan kita. Keadaan sukar yang tidak dapat kita pahami dapat kita terima, selama Allah dipermuliakan.

7. Resiko Pelayan

Seorang pelayan harus menyiapkan diri untuk membayar harga sebuah pelayanan. Pelayanan sejati senantiasa memiliki resiko dan ini harus berani ditanggung bagi seluruh orang yang melayani. Semakin tinggi kedudukan pelayan, akan semakin tinggi harga yang harus dibayarnya.

a. Pengorbanan

Seorang pelayan Tuhan harus siap berkorban untuk apa saja yang Tuhan inginkan sebagai harga yang harus dibayar. Barangkali Tuhan menuntut kita berkorban waktu, uang, perasaan, dan lain-lain.

b. Kesepian

Sebagai kelompok minoritas di dunia yang penuh dengan dosa, kita dituntut untuk menyatakan jati diri iman kristiani. Ada kalanya sikap dan cara hidup kita dianggap aneh dan terlalu sok suci, sehingga orang menghindari kita. Saat itulah baru kita merasa sepi dan berat dalam menjalankan tugas pelayanan. Situasi seperti ini pun sudah harus diperhitungkan kalau mau menjadi pelayan Tuhan yang baik. Contoh yang baik adalah Ayub, dia kesepian dan sendiri saat semua milik dan sekitarnya habis; hanya Tuhan saja yang memberikan penghiburan khusus kepadanya.

c. Kelelahan

Banyak pelayan Tuhan cepat bosan, lelah, jenuh, dan frustasi; karena mereka melayani dengan cara kedagingan dan bukan dengan cara Kristus. Semua itu bisa timbul karena pikiran kita selalu berkata: Saya melayani gereja atau organisasi dan bukan Tuhan Yesus sendiri. Jelas seperti ini akan mudah lelah, letih, dan bosan. Kompensasinya adalah menjadi cepat marah. Ada hal lain lagi, ada pelayan yang sok sibuk mengurus ini dan itu, sehingga tidak bisa mengatur waktu dengan baik, konsentrasi terpecah dan banyak pelayanan terabaikan. Ini karena single fighter dan belum bisa mendelegasikan tugas.

d. Kritikan

Ingat, yang kita layani bukan barang, bukan sesuatu, melainkan seseorang, tetapi satu pribadi yang utuh dan dikasihi Tuhan. Seringkali ada kesalahpahaman menilai maksud dan pikiran kita, sehingga mereka protes, mengkritik dan senantiasa menyoroti sisi negatif pekerjaan kita. Bahkan semakin tinggi posisi kita semakin tinggi resiko kritik yang datang, tapi inilah harga penyerahan diri kita kepada Allah, seperti Kristus yang dalam melayani manusia disalah-mengerti oleh banyak orang, bahkan difitnah.

e. Penolakan

Tidak semua orang senang dengan pelayanan kita, mereka bisa menolak kehadiran kita oleh sebab-sebab tertentu. Dalam hal ini kita harus berhat-hati; kalau kita bersalah, segera perbaiki, tapi kalau kita ditolak karena Injil, bersyukurlah (1 Petrus 2:18-21).

8. Ujian / Godaan Pelayanan

Hampir semua orang tidak senang dengan ujian, tetapi hal ini harus dihadapi sebagai tahap untuk memasuki tingkat yang lebih tinggi. Dalam hal imanpun berlaku demikian. Melalui ujian akan semakin jelas mutu iman kita dan semakin jelas mengapa kita mengikut dan melayani Yesus. Beberapa ujian yang sering dihadapi dalam pelayanan, namun sekaligus sebagai bahaya yang harus diwaspadai setiap pelayan Kristus, antara lain:

a. Kompromi

Sering kita dihadapkan dengan dilema, sehingga kecenderungan orang lebih memilih aman, lalu menurunkan standar Allah hanya sekedar untuk menyenangkan orang tertentu atau untuk mencapai tujuan yang semu. Ingat, kita harus menjunjung tinggi stndar Allah, jangan tergoda untuk bersikap kompromi.

b. Ambisi

Banyak orang memulai pelayanan yang kecil dan sederhana dengan begitu tulus, sukarela, murni, dan bersemangat. Tapi di kala kita dipercaya Allah untuk melakukan tugas pelayanan yang lebih besar dan serius, kita mulai kehilangan kasih dan kemurnian kita menjadi luntur. Pelayanan kita jadikan sebagai sirkuit untuk berlomba mencapai puncak prestasi, nama yang harum, jabatan yang tinggi, dihargai, dan dihormati. Untuk mencapai ambisi tersebut tidak jarang kita mengorbankan orang lain, sehingga pelayanan bukan lagi sebuah pelayanan seorang hamba, melainkan sebuah standar prestasi dunia. Banyak sudah pelayan Tuhan yang jatuh dalam hal ini.

c. Keadaan yang Mustahil

Dalam pengalaman pelayanan, seringkali terjadi kondisi yang sulit, tidak ada jalan keluar yang mustahil untuk dihadapi. Seperti Israel waktu keluar dari Mesir dikejar-kejar tentara Firaun. Dihadapkan pada dilema: Maju terhalang laut, mundur berhadapan dengan tentara Mesir yang kuat. Maju dan mundur sama-sama resikonya mati. Israel putus asa, namun Tuhan memberikan mujizat-Nya melalui Musa yang penuh iman. Sebagai pelayan Tuhan kita harus memiliki iman seperti Musa, bukan dengan kegagahan kuda dan tentara yang kuat, melainkan dengan hikmat dan keperkasaan Tuhan kita harus terus maju.

d. Iri Hati

Keadaan seperti ini seringkali tanpa disadari muncul begitu saja dalam hati seorang pelayan Tuhan. Khususnya kalau melihat keberhasilan orang atau organisasi lain, sedang diri sendiri tidak mendapat yang diharapkannya. Sebagai contoh, oleh karena iri hati kepada Daud, maka Saul menjadi semakin jauh dari Tuhan dan oleh karena iri hati saudara-saudaranya, Yusuf menderita. Iri hati merupakan dosa yang bukan saja berdampak bagi kita pribadi, tapi bagi orang lain. Waspadalah terhadap dosa ini.

e. Kesombongan

Seorang pelayan Tuhan yang sudah berada di atas, kalau tidak berhati-hati akan mulai terkikis rasa kasih dan melihat semua rekan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Dia mulai sombong dengan jabatan dan penghasilannya, mulai tidak memandang muka kepada orang yang miskin dan papa, merasa kesal dan terganggu kalau ada orang kalangan bawah membutuhkan pelayanannya. Kalaupun dikerjakan, bukan dengan sungguh-sungguh tapi setengah hati. Semua pelayanan dinilai dari ukuran pengaruh, materi, dan relasi. Ingatlah contoh ini, penghulu malaikat jatuh menjadi iblis karena kesombongan, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena kesombongan.

f. Sikap-sikap lain yang harus diwaspadai, seperti:

  • Mementingkan diri sendiri
  • Popularitas
  • Merasa selalu benar dan tidak pernah bersalah
  • Merasa sangat diperlukan
  • Tri “ta”

9. Senjata Pelayanan: Firman Tuhan, Doa, Roh Kudus

Firman Tuhan dan doa adalah merupakan alat Allah yang paling penting. Efesus 6:10-20 sangat jelas mengingatkan hal ini. Jika kita mempelajari Alkitab namun tidak pernah berdoa, kita akan memiliki sejumlah besar terang tanpa panas. Jika kita berdoa tapi tidak pernah belajar Alkitab, kita dapat menjadi fanatik dan bersemangat tapi tidak memiliki pengertian (Roma 13:2).

a. Alkitab

Pelayan Tuhan yang tidak mengetahui isi Alkitab, sudah tentu merupakan kegagalan dalam pelayanannya. Salah satu kualifikasi bagi seorang pelayan adalah cakap untuk mengajar (2 Timotius 2:2). Untuk bisa mengajar, maka harus belajar. Iptek bisa diketahui lewat buku-buku karangan manusia, tapi pengenalan akan Allah hanya bisa diperoleh dari Alkitab. Hal ini harus dilakukan dengan menggali isinya. Kita dapat mengambil kayu, jerami, rumput kering dari permukaan tanah, dan itu bisa dilakukan tanpa perlu banyak berusaha. Jika kita menginginkan emas dan permata, kita harus menggalinya.

b. Doa

Charles Bridges pernah menulis: … pelayanan Kristen adalah pekerjaan iman. Agar pelayanan itu bisa menjadi pekerjaan iman, maka harus merupakan pekerjaan doa. Doa meneguhkan iman, sedangkan iman dalam reaksinya mempercepat meningkatnya doa yang penuh kesungguhan. Sangat berbahaya jika melayani tanpa doa. Dalam segala sesuatu yang dilakukan manusia tanpa Allah, ia pasti gagal sama sekali atau sukses dengan sangat buruk. Pelayan Tuhan yang merasa sibuk untuk berdoa dan mempelajari Alkitab, sebenarnya hanya menutupi keengganannya. Mungkin dalam pandangannya sendiri ia sukses, tapi ia gagal di pandangan Allah. Allah tidak berjanji memberkati metode-metode, tapi Ia berjanji untuk memberkati Firman yang ditaburkan-Nya dan untuk menjawab doa.

c. Roh Kudus

Banyak pelayan-pelayan Tuhan cenderung bergantung pada pengetahuan, keberadaan harta, hal-hal yang dianggap mem-backup di masyarakat luas, latihan, talenta, dan pengalaman. Hal-hal ini memang diperlukan dan memang pelayan Tuhan tidak boleh melalaikan hal itu, tetapi tanpa kuasa Roh Kudus semua itu tidak ada gunanya. Roh Kudus bukanlah sesuatu untuk dipamerkan, melainkan pribadi yang kita butuhkan. Pelayan Tuhan pertama-tama harus sadar bahwa secara mutlak ia butuh Roh Kudus. Mungkin pelayanan kita tidak seperti Billy Graham, John Sung atau Hudson Taylor, tetapi kita bisa memiliki kuasa yang sama, karena Roh Kudus yang sama bekerja pada diri mereka dan diri kita.

10. Pahala Pelayan

Memang dalam melayani Tuhan ada banyak resiko dan bahaya yang perlu diwaspadai, namun kalau dikerjakan dengan tekun dan dengan visi serta motivasi yang jelas, maka Tuhan yang adalah setia dan adil itu menyediakan pahala bagi yang setia melaksanakan tugas pelayanan-Nya. Namun harus diingat bahwa pahala bukanlah tujuan pelayanan, melainkan sebagai konsekuensi kasih dan keadilan Tuhan atas umat-Nya yang setia. Pahala sendiri sifatnya menjadi dorongan semangat sekaligus penghiburan dikala ujian sedang dihadapi dan tetap berjuang terus menunaikan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada kita.

a. Jaminan bagi yang melayani Tuhan dengan setia

  1. Ia patut dihormati oleh jemaat (1 Timotius 5:17-19)
  2. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kehidupannya (Ibrani 13:5)
  3. Tuhan berjanji senantiasa beserta sampai kesudahannya (Matius 28:20)
  4. Tuhan berjanji memberikan jalan keluar jika mengalami kesulitan (1 Korintus 10:13)
  5. Semua jerih payah tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58)
  6. Ada sukacita dan kebahagiaan tersendiri (Filipi 2:17-18)

b. Pahala / mahkota bagi yang melayani dengan setia

Upah pelayanan adalah pelayanan yang lebih besar lagi; upah bagi kesetiaan dalam pelayanan adalah lebih banyak pelayanan. Kesetiaan dalam pelayanan akan meningkat-kan kemampuan seseorang; kepercayaan terhadapnya dalam pelayanan pun bertambah.
  1. Mahkota abadi (1 Korintus 9:24-25)
  2. Mahkota kemegahan (1 Tesalonika 2:19; Filipi 4:1)
  3. Mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10)
  4. Mahkota kebenaran (2 Timotius 4:8)
  5. Mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4)
By: Robert Cobra Jeferson