Kumpulan lagu terbaik

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka         jpnn.com ,  JAKARTA  - MM Restu Hapsari atau yang lebih akrab disapa ...

Rabu, 13 Maret 2019

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka

Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka


    
Restu Hapsari Siap Bertarung di Dapil Neraka - JPNN.COM
jpnn.comJAKARTA - MM Restu Hapsari atau yang lebih akrab disapa Restu adalah perempuan kelahiran Klaten, 2 Mei 1973. Restu dibesarkan dalam sebuah keluarga guru. Ayah dan ibunya adalah guru sekolah dasar negeri di Jawa Tengah.
Sejak mengenyam pendidikan dasar, orang tuanya selalu mendorong Restu untuk aktif berorganisasi. Di sekolah menengah pertama hingga menengah atas, Restu selalu masuk dalam kepengurusan organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan juga dikenal sebagai murid yang berprestasi.
Setelah menamatkan SMA, Restu melanjutkan pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Jawa Tengah. Selama menjadi mahasiswa, Restu aktif berorganisasi baik di internal kampus maupun eksternal kampus.
Dalam organisasi internal kampus, Restu bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ia juga aktif di beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa. Sedangkan di eksternal kampus, Restu bergabung dan aktif dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Surakarta hingga menjabat sebagai Ketua Presidium Periode 1997-1998. Saat itu, suasana politik menuju reformasi berlangsung. Keterlibatannya dalam dunia organisasi, membuat Restu sudah dikenal sebagai sosok aktivis muda sejak mahasiswa.
Komitmen dan passionnya terhadap organisasi terus menuntunnya pada relasi pergaulan yang semakin luas baik dengan berbagai pihak. Restu mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2002-2004. Kiprah selanjutnya, tidak hanya dalam berorganisasi saja, selanjutnya Restu memilih untuk terjun ke dunia politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan.
Restu mengawali karir politiknya di PDI Perjuangan di Departemen Pemuda dan Olahraga DPP PDI Perjuangan pada periode 2015-2010 di bawah bimbingan Maruarar Sirait, tokoh muda PDI Perjuangan. Berkat ketekunan dan berbagai prestasinya, Restu dipercaya memegang jabatan-jabatan penting di struktural dan sayap Partai PDI Perjuangan yakni sebagai Wakil Sekretaris BP Pemilu Pusat PDI Perjuangan 2016-2018.
Restu juga menjabat sebagai Sekretaris Balitbang Pusat PDI Perjuangan 2018-2020, Tim Kampanye Nasional Jokowi & Jusuf Kalla tahun 2014, dan sekarang juga di Tim Kampanye Nasional Jokowi & Ma'ruf Amin, serta juga sebagai Sekretaris Jenderal DPP Taruna Merah Putih sayap partai PDI Perjuangan periode 2016-2020.
Selain aktif berpolitik, Restu juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, di antaranya Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) KAJ, Yayasan Hapsari yang bergerak dalam bidang pemberdayaan, trainer, serta konsultan manajemen sumber daya manusia, serta di beberapa kegiatan bersama para perempuan. Di dalam aktivitas perempuan antara lain juga sebagai Divisi Jaringan dan Avokasi Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) yang beranggotakan para perempuan lintas partai untuk kerja-kerja pemberdayaan, edukasi dan politik bagi perempuan.
Berbagai kegiatan lintas agama juga ditekuni sebagai penggiat kerukunan antar-umat beragama dan menebar semangat bhinneka tunggal ika. Restu juga rutin bersama komunitasnya menyelenggarakan kaderisasi lintas iman bagi anak-anak muda di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Hal ini tidak bisa dilepaskan karena kecintaannya terhadap Republik Indonesia yang memang beragam. Dan dulu mengawali pekerjaannya di Jakarta juga menggeluti kegiatan lintas iman di Institute Pluralisme Indonesia (IPI) dari tahun 2000 sampai dengan 2010.
Seiring dengan tanggung jawab yang begitu besar dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan politik, Restu kadang diutus mengikuti berbagai kegiatan internasional. Di antaranya Comparative Study for Student Movements in Asia di Singapura, Short Course: Gender Sensitivity di Chiang Mae, Thailand hingga konferensi politik internasional seperti Visit Study Social Economy-Politics di Cina dan Strategic Political Communication for Candidate di Seam Rap, Cambodia.
Melalui segudang pengalaman yang dimilikinya, kini Restu mantap melangkah dan memutuskan maju sebagai Caleg PDI Perjuangan Nomor Urut 3 di Dapil DKI Jakarta III yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
Meskipun banyak orang mengatakan bahwa DKI Jakarta III merupakan dapil neraka, menurut Restu ini menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. Ia telah mempertimbangkan secara matang peluang dan tantangan sehingga membuatnya secara sadar dan yakin memutuskan untuk maju DPR RI di dapil ini.(fri/jpnn)

Jumat, 22 Februari 2019

Membangun integritas Hamba Tuhan dalam Pelayanan Persekutuan dan Gereja


Membangun Integritas Hamba Tuhan dalam Pelayanan

1. Asal Pelayanan: Allah (1 Timotius 1:12; 1 Tesalonika 2:4)

Suatu pelayanan yang murni harus berasal dari Allah, bukan dari manusia (2 Korintus 5:18; 1 Timotius 1:12). Allah menyerahkan pelayanan hanya kepada orang-orang yang telah menjadi milik-Nya, dalam arti sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Kalau ada orang yang belum menjadi milik-Nya yang terlibat dalam pelayanan, maka pelayananya tidak akan diterima Allah (Yesaya 64:6). Jadi, suatu pelayanan terjadi atas inisiatif Allah. Oleh karena itu, seorang pelayan pertama-tama bertanggung jawab penuh kepada Allah. Dengan kata lain, pelayanan bukan untuk menyenangkan manusia tetapi untuk menyenangkan Allah (1 Tesalonika 2:4; Galatia 1:10).

2. Dasar Pelayanan: Karakter / Sikap Hati (1 Samuel 16:7; Roma 12:1)

Dalam pelayanan, kita tidak pernah dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak ada pada kita. Kita tidak boleh mengabaikan karakter; kalau kita abaikan, berarti kita meninggalkan dasar pelayanan. Ini sebabnya Allah menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan pelayan-Nya. Misalnya: Yusuf (13 tahun), Musa (80 tahun), Paulus (3 tahun). Tanpa karakter, pelayanan hanyalah sebagai aktivitas keagamaan belaka, atau lebih buruk lagi, sebagai bisnis rohani. Yesus menyebut orang Farisi sebagai kemunafikan. Dia tahu bahwa orang Farisi lebih memperhatikan reputasi mereka daripada karakter mereka, dan bahwa pujian manusia lebih menarik perhatian mereka daripada perkenanan Allah. Tidak akan ada seorang pun yang dapat melayani Tuhan sekaligus bersandiwara. Harus ingat peristiwa Ananias dan Safira.

3. Motivasi Pelayanan: Kasih (Matius 22:37-39)

Ada 3 alasan seseorang mau mengerjakan suatu pekerjaan:
  • Kewajiban / keharusan -> Budak
  • Keuntungan / imbalan -> Karyawan
  • Kasih -> Pelayanan Tuhan
Pelayanan terlalu suci untuk dimotivasi dengan keuntungan duniawi dan terlalu sukar jika dimotivasi dengan kewajiban, hanya kasih kepada Allah dan manusia yang dapat membuat kita bertahan dalam pelayanan. Hanya kasih yang dapat membuat seorang hamba Tuhan bisa mengutamakan orang lain dan membuat tidak memanfaatkan orang lain untuk tujuan-tujuannya sendiri. Kasih juga dapat mencegah seorang hamba Tuhan menjadi diktator. Kewajiban atau tugas dapat dipenuhi dengan sukacita jika ada kasih dalam diri pelaksana. Kasih itu bukan sekedar perasaan yang dangkal atau sekedar ucapan, tapi merupakan hasil pemahaman yang dalam. Pelayanan Paulus dipenuhi dengan kasih Kristus (2 Korintus 5:14) dan dorongan kasih inilah yang membuatnya bertahan dalam pelayanan ketika segala sesuatunya menjadi sukar. Tanpa kasih, akan ada banyak halangan dalam pelayanan. Kita mungkin tidak tahu tentang teori komunikasi yang baik, kita dapat membangun jembatan dan meruntuhkan tembok pemisah, sehingga berita kita dapat disampaikan.

4. Sifat Pelayanan: Melayani (Matius 20:20-28)

Dalam gereja mula-mula, hamba Tuhan adalah seorang pelayan, bukan sekedar petugas. Orang Romawi dan Yunani menganggap bahwa pelayan adalah seorang yang tidak punya arti dan tidak penting, yang melakukan segala sesuatu bagi orang lain yang lebih penting. Yesus dan para rasul tahu akan hal ini, tetapi mereka tetap melihat diri mereka sebagai pelayan, karena hal tersebut benar.
Jangan jadi pelayan Tuhan, jika:
  • Orang yang tidak mau bekerja dan melayani orang lain.
  • Orang yang hanya ingin menikmati perhatian dari banyak orang dan ingin terkenal.
Yesus mengosongkan diri-Nya dan menjadi seorang hamba bagi manusia yang hina, Dia datang untuk melayani. Apakah kita lebih besar dari Dia?

5. Ukuran Pelayanan: Salib (1 Petrus 2:18-25; Ibrani 12:1-4)

Pelayanan tanpa pengorbanan sama sekali bukan pelayanan yang sebenarnya. Dalam Markus 10:45, Yesus memparalelkan dua hal: untuk melayani dan untuk memberi. Hubungannya jelas, yaitu dalam pelayanan ada harga yang harus dibayar. Pelayanan tanpa pengorbanan tidak akan mencapai hasil apa-apa. A.W. Tozer memperingatkan bahwa ada salib baru yang telah memasuki kekristenan. Salib itu tidak punya kaitan dengan penderitaan, pengorbanan, dan kematian. Salib itu tidak membunuh orang berdosa, tetapi hanya mengalihkan hidupnya kepada hidup yang lebih bergengsi, lebih kaya, dan menonjolkan harga dirinya.
Tujuan mereka melayani adalah untuk melihat apa yang dapat mereka peroleh, bukan apa yang dapat mereka berikan. Biasanya orang-orang ini cepat mengeluh dan cepat puas atas apa yang telah mereka berikan (2 Korintus 11:23-32).

6. Tujuan Pelayanan: Kemuliaan Allah ( Efesus 1:12; 1 Korintus 10:31)

Segala sesuatu yang Allah lakukan, pada akhirnya adalah untuk kemuliaan-Nya. Tujuan karya Allah adalah pujian kemuliaan-Nya (Efesus 1:6 , 12, 14). Pelayan Tuhan harus memiliki perspektif yang kekal itu. Kalau tidak, ia akan terjebak oleh tujuan sementara, yang hanya akan membawa kepada pelayanan tubuh yang sibuk dan paslu, yang berlindung dibalik jadwal dan statistik. Tuaian bukanlah pada akhir pertemuan, melainkan pada akhir jaman. Karena itu berbahaya, jika terlalu kaku dan fanatik dalam mengevaluasi pelayanan saat ini. Satu-satunya tujuan yang dapat bertahan pada saat penghakiman adalah saya melayani untuk kemuliaan Allah.
Bila kita mempunyai tujuan seperti ini, pujian tidak akan membuat kita tinggi hati dan kritikan tidak akan melemahkan kita. Keadaan sukar yang tidak dapat kita pahami dapat kita terima, selama Allah dipermuliakan.

7. Resiko Pelayan

Seorang pelayan harus menyiapkan diri untuk membayar harga sebuah pelayanan. Pelayanan sejati senantiasa memiliki resiko dan ini harus berani ditanggung bagi seluruh orang yang melayani. Semakin tinggi kedudukan pelayan, akan semakin tinggi harga yang harus dibayarnya.

a. Pengorbanan

Seorang pelayan Tuhan harus siap berkorban untuk apa saja yang Tuhan inginkan sebagai harga yang harus dibayar. Barangkali Tuhan menuntut kita berkorban waktu, uang, perasaan, dan lain-lain.

b. Kesepian

Sebagai kelompok minoritas di dunia yang penuh dengan dosa, kita dituntut untuk menyatakan jati diri iman kristiani. Ada kalanya sikap dan cara hidup kita dianggap aneh dan terlalu sok suci, sehingga orang menghindari kita. Saat itulah baru kita merasa sepi dan berat dalam menjalankan tugas pelayanan. Situasi seperti ini pun sudah harus diperhitungkan kalau mau menjadi pelayan Tuhan yang baik. Contoh yang baik adalah Ayub, dia kesepian dan sendiri saat semua milik dan sekitarnya habis; hanya Tuhan saja yang memberikan penghiburan khusus kepadanya.

c. Kelelahan

Banyak pelayan Tuhan cepat bosan, lelah, jenuh, dan frustasi; karena mereka melayani dengan cara kedagingan dan bukan dengan cara Kristus. Semua itu bisa timbul karena pikiran kita selalu berkata: Saya melayani gereja atau organisasi dan bukan Tuhan Yesus sendiri. Jelas seperti ini akan mudah lelah, letih, dan bosan. Kompensasinya adalah menjadi cepat marah. Ada hal lain lagi, ada pelayan yang sok sibuk mengurus ini dan itu, sehingga tidak bisa mengatur waktu dengan baik, konsentrasi terpecah dan banyak pelayanan terabaikan. Ini karena single fighter dan belum bisa mendelegasikan tugas.

d. Kritikan

Ingat, yang kita layani bukan barang, bukan sesuatu, melainkan seseorang, tetapi satu pribadi yang utuh dan dikasihi Tuhan. Seringkali ada kesalahpahaman menilai maksud dan pikiran kita, sehingga mereka protes, mengkritik dan senantiasa menyoroti sisi negatif pekerjaan kita. Bahkan semakin tinggi posisi kita semakin tinggi resiko kritik yang datang, tapi inilah harga penyerahan diri kita kepada Allah, seperti Kristus yang dalam melayani manusia disalah-mengerti oleh banyak orang, bahkan difitnah.

e. Penolakan

Tidak semua orang senang dengan pelayanan kita, mereka bisa menolak kehadiran kita oleh sebab-sebab tertentu. Dalam hal ini kita harus berhat-hati; kalau kita bersalah, segera perbaiki, tapi kalau kita ditolak karena Injil, bersyukurlah (1 Petrus 2:18-21).

8. Ujian / Godaan Pelayanan

Hampir semua orang tidak senang dengan ujian, tetapi hal ini harus dihadapi sebagai tahap untuk memasuki tingkat yang lebih tinggi. Dalam hal imanpun berlaku demikian. Melalui ujian akan semakin jelas mutu iman kita dan semakin jelas mengapa kita mengikut dan melayani Yesus. Beberapa ujian yang sering dihadapi dalam pelayanan, namun sekaligus sebagai bahaya yang harus diwaspadai setiap pelayan Kristus, antara lain:

a. Kompromi

Sering kita dihadapkan dengan dilema, sehingga kecenderungan orang lebih memilih aman, lalu menurunkan standar Allah hanya sekedar untuk menyenangkan orang tertentu atau untuk mencapai tujuan yang semu. Ingat, kita harus menjunjung tinggi stndar Allah, jangan tergoda untuk bersikap kompromi.

b. Ambisi

Banyak orang memulai pelayanan yang kecil dan sederhana dengan begitu tulus, sukarela, murni, dan bersemangat. Tapi di kala kita dipercaya Allah untuk melakukan tugas pelayanan yang lebih besar dan serius, kita mulai kehilangan kasih dan kemurnian kita menjadi luntur. Pelayanan kita jadikan sebagai sirkuit untuk berlomba mencapai puncak prestasi, nama yang harum, jabatan yang tinggi, dihargai, dan dihormati. Untuk mencapai ambisi tersebut tidak jarang kita mengorbankan orang lain, sehingga pelayanan bukan lagi sebuah pelayanan seorang hamba, melainkan sebuah standar prestasi dunia. Banyak sudah pelayan Tuhan yang jatuh dalam hal ini.

c. Keadaan yang Mustahil

Dalam pengalaman pelayanan, seringkali terjadi kondisi yang sulit, tidak ada jalan keluar yang mustahil untuk dihadapi. Seperti Israel waktu keluar dari Mesir dikejar-kejar tentara Firaun. Dihadapkan pada dilema: Maju terhalang laut, mundur berhadapan dengan tentara Mesir yang kuat. Maju dan mundur sama-sama resikonya mati. Israel putus asa, namun Tuhan memberikan mujizat-Nya melalui Musa yang penuh iman. Sebagai pelayan Tuhan kita harus memiliki iman seperti Musa, bukan dengan kegagahan kuda dan tentara yang kuat, melainkan dengan hikmat dan keperkasaan Tuhan kita harus terus maju.

d. Iri Hati

Keadaan seperti ini seringkali tanpa disadari muncul begitu saja dalam hati seorang pelayan Tuhan. Khususnya kalau melihat keberhasilan orang atau organisasi lain, sedang diri sendiri tidak mendapat yang diharapkannya. Sebagai contoh, oleh karena iri hati kepada Daud, maka Saul menjadi semakin jauh dari Tuhan dan oleh karena iri hati saudara-saudaranya, Yusuf menderita. Iri hati merupakan dosa yang bukan saja berdampak bagi kita pribadi, tapi bagi orang lain. Waspadalah terhadap dosa ini.

e. Kesombongan

Seorang pelayan Tuhan yang sudah berada di atas, kalau tidak berhati-hati akan mulai terkikis rasa kasih dan melihat semua rekan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Dia mulai sombong dengan jabatan dan penghasilannya, mulai tidak memandang muka kepada orang yang miskin dan papa, merasa kesal dan terganggu kalau ada orang kalangan bawah membutuhkan pelayanannya. Kalaupun dikerjakan, bukan dengan sungguh-sungguh tapi setengah hati. Semua pelayanan dinilai dari ukuran pengaruh, materi, dan relasi. Ingatlah contoh ini, penghulu malaikat jatuh menjadi iblis karena kesombongan, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena kesombongan.

f. Sikap-sikap lain yang harus diwaspadai, seperti:

  • Mementingkan diri sendiri
  • Popularitas
  • Merasa selalu benar dan tidak pernah bersalah
  • Merasa sangat diperlukan
  • Tri “ta”

9. Senjata Pelayanan: Firman Tuhan, Doa, Roh Kudus

Firman Tuhan dan doa adalah merupakan alat Allah yang paling penting. Efesus 6:10-20 sangat jelas mengingatkan hal ini. Jika kita mempelajari Alkitab namun tidak pernah berdoa, kita akan memiliki sejumlah besar terang tanpa panas. Jika kita berdoa tapi tidak pernah belajar Alkitab, kita dapat menjadi fanatik dan bersemangat tapi tidak memiliki pengertian (Roma 13:2).

a. Alkitab

Pelayan Tuhan yang tidak mengetahui isi Alkitab, sudah tentu merupakan kegagalan dalam pelayanannya. Salah satu kualifikasi bagi seorang pelayan adalah cakap untuk mengajar (2 Timotius 2:2). Untuk bisa mengajar, maka harus belajar. Iptek bisa diketahui lewat buku-buku karangan manusia, tapi pengenalan akan Allah hanya bisa diperoleh dari Alkitab. Hal ini harus dilakukan dengan menggali isinya. Kita dapat mengambil kayu, jerami, rumput kering dari permukaan tanah, dan itu bisa dilakukan tanpa perlu banyak berusaha. Jika kita menginginkan emas dan permata, kita harus menggalinya.

b. Doa

Charles Bridges pernah menulis: … pelayanan Kristen adalah pekerjaan iman. Agar pelayanan itu bisa menjadi pekerjaan iman, maka harus merupakan pekerjaan doa. Doa meneguhkan iman, sedangkan iman dalam reaksinya mempercepat meningkatnya doa yang penuh kesungguhan. Sangat berbahaya jika melayani tanpa doa. Dalam segala sesuatu yang dilakukan manusia tanpa Allah, ia pasti gagal sama sekali atau sukses dengan sangat buruk. Pelayan Tuhan yang merasa sibuk untuk berdoa dan mempelajari Alkitab, sebenarnya hanya menutupi keengganannya. Mungkin dalam pandangannya sendiri ia sukses, tapi ia gagal di pandangan Allah. Allah tidak berjanji memberkati metode-metode, tapi Ia berjanji untuk memberkati Firman yang ditaburkan-Nya dan untuk menjawab doa.

c. Roh Kudus

Banyak pelayan-pelayan Tuhan cenderung bergantung pada pengetahuan, keberadaan harta, hal-hal yang dianggap mem-backup di masyarakat luas, latihan, talenta, dan pengalaman. Hal-hal ini memang diperlukan dan memang pelayan Tuhan tidak boleh melalaikan hal itu, tetapi tanpa kuasa Roh Kudus semua itu tidak ada gunanya. Roh Kudus bukanlah sesuatu untuk dipamerkan, melainkan pribadi yang kita butuhkan. Pelayan Tuhan pertama-tama harus sadar bahwa secara mutlak ia butuh Roh Kudus. Mungkin pelayanan kita tidak seperti Billy Graham, John Sung atau Hudson Taylor, tetapi kita bisa memiliki kuasa yang sama, karena Roh Kudus yang sama bekerja pada diri mereka dan diri kita.

10. Pahala Pelayan

Memang dalam melayani Tuhan ada banyak resiko dan bahaya yang perlu diwaspadai, namun kalau dikerjakan dengan tekun dan dengan visi serta motivasi yang jelas, maka Tuhan yang adalah setia dan adil itu menyediakan pahala bagi yang setia melaksanakan tugas pelayanan-Nya. Namun harus diingat bahwa pahala bukanlah tujuan pelayanan, melainkan sebagai konsekuensi kasih dan keadilan Tuhan atas umat-Nya yang setia. Pahala sendiri sifatnya menjadi dorongan semangat sekaligus penghiburan dikala ujian sedang dihadapi dan tetap berjuang terus menunaikan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada kita.

a. Jaminan bagi yang melayani Tuhan dengan setia

  1. Ia patut dihormati oleh jemaat (1 Timotius 5:17-19)
  2. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kehidupannya (Ibrani 13:5)
  3. Tuhan berjanji senantiasa beserta sampai kesudahannya (Matius 28:20)
  4. Tuhan berjanji memberikan jalan keluar jika mengalami kesulitan (1 Korintus 10:13)
  5. Semua jerih payah tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58)
  6. Ada sukacita dan kebahagiaan tersendiri (Filipi 2:17-18)

b. Pahala / mahkota bagi yang melayani dengan setia

Upah pelayanan adalah pelayanan yang lebih besar lagi; upah bagi kesetiaan dalam pelayanan adalah lebih banyak pelayanan. Kesetiaan dalam pelayanan akan meningkat-kan kemampuan seseorang; kepercayaan terhadapnya dalam pelayanan pun bertambah.
  1. Mahkota abadi (1 Korintus 9:24-25)
  2. Mahkota kemegahan (1 Tesalonika 2:19; Filipi 4:1)
  3. Mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10)
  4. Mahkota kebenaran (2 Timotius 4:8)
  5. Mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4)
By: Robert Cobra Jeferson 

Sabtu, 22 Desember 2018

Makna Natal dalam Kehidupan Kita

Apakah Arti Natal yang Sesungguhnya? 










Sekarang sudah dekat masa natal dan tiap orang mempunyai makna natal yang berbeda-beda. Apakah sebenarnya makna natal bagi kita orang yang percaya?
 Setiap orang memaknai arti cinta dalam makna yang berbeda-beda tapi ada satu kata yang selalu kita ingat ketika menyebutkan kata cinta, yaitu pengorbanan. Lalu apa yang dimaksud dengan pengorbanan ? Pengorbanan adalah suatu tindakan yang kita lakukan dengan atau tanpa diketahui orang tersebut untuk membuat mereka merasa bahagia tanpa mengharapkan timbal balik. Sehingga sangat wajar jika perasaan tanpa memiliki hati yang rela berkorban tidak bisa kita sebut sebagai cinta.
Apapun pasti akan kita lakukan untuk membuat orang yang kita cintai bahagia tanpa memperdulikan apakah hal tersebut akan menguntungkan atau merugikan bagi diri kita sendiri. Hal ini yang dilakukan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu, Dia datang ke bumi untuk melepaskan belenggu dosa yang mengikat manusia dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya walaupun Dia sudah mengetahui secara pasti rasa sakit atas penolakan, hinaan dan siksaan yang Dia akan dialami selama berada di dunia. Semua itu Tuhan lakukan karena sangat mencintai manusia, Dia tidak ingin kita masuk ke dalam hukuman yang kekal, yaitu neraka.
Lalu kenapa Tuhan menciptakan neraka, jika Tuhan tidak mau manusia masuk ke dalamnya ? Tidak pernah terpikir sedikit pun oleh Tuhan ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa untuk manusia masuk ke dalam neraka karena sebenarnya Tuhan ciptakan untuk menghukum Lusifer dan para malaikat yang memberontak di surga. Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa dan Tuhan adalah Allah Maha Adil dan Allah Maha Kasih, Tuhan harus bersikap adil untuk tetap menghukum manusia, karena itu Tuhan rela untuk meninggalkan segala kenyaman-Nya lalu datang ke dalam dunia menjadi seorang manusia untuk menggantikan posisi kita untuk menanggung hukuman yang seharusnya kita dapatkan. Sehingga atas pengorbanan-Nya kita terbebas dari belenggu dosa dan kita memiliki kesempatan untuk bisa tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga.
Di atas adalah sepintas tentang pengorbanan yang Tuhan lakukan untuk kita dan pada tanggal 25 Desember ini ada momen spesial yang sudah kita tunggu-tunggu. Kita akan memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus ke dalam  dunia atau yang lebih dikenal dengan sebutan Natal. Apa yang terlintas dalam benak kalian jika mendengar kata “Natal” ? Berkumpul dengan keluarga, bertukar hadiah, big sale chistmast di mal-mall, liburan akhir tahun atau kalian membayangkan bonus akhir tahun ?
Terlepas dari itu semua kita harus benar-benar memaknai arti natal sesungguhnya, karena di momen ini kita mengetahui seberapa besar pengorbanan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Namun permasalahannya banyak dari kita yang menganggap Natal sebagai perayaan tahunan yang biasa saja, disinilah kita harus merubah pola pikir kita. Natal bukan hanya sekedar perayaan dengan datang ke gereja karena Natal adalah hari peringatan atas kelahiran Raja diatas segala Raja, yaitu Tuhan Yesus.
Lalu, hal apa yang bisa kita lakukan untuk memaknai pengorbanan Tuhan di momen kelahiran-Nya ?

Memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan

Banyak hal yang bisa membuat kita kehilangan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan melakukan perbuatan yang menyakit-Nya, sebagai contoh: Masalah, zona nyaman, kesuksesan, pekerjaan, sekolah, pacar, dll. Semua hal itu membuat kita menjauh dari Tuhan, kasih mula-mula yang kita miliki mulai tergerus. Jika hal ini mulai terjadi ingatlah betapa Tuhan mencintai kita dan telah membuktikan cinta-Nya dengan lahir di dunia untuk menebus semua dosa-dosa kita, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melekat didalam-Nya. Di momen natal ini merupakan momen yang tepat untuk kita memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan, perbaharui komitmen-komitmen sebagai anak-anak Kristus.

Membuat target baru dalam bidang rohani dan menjadi berkat
Setelah kita memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan, alangkah baiknya jika kita membuat target-target baru untuk meningkatkan kualitas kehidupan rohani kita. Sebagai contoh:
Menemukan panggilan hidup, sangat penting bagi kita menemukan panggilan hidup kita karena dari sana kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita dan terus bertumbuh hingga menjadi anak-anak Tuhan yang dewasa.
Menemukan talenta yang kita miliki, talenta adalah anugrah yang Tuhan berikan kepada kita, berkembang atau tidak berkembang talenta adalah pilihan kita masing-masing. Melalui talenta yang kita miliki inilah Tuhan ingin berkarya di dalam-Nya untuk memberkati orang lain maupun memberkati diri kita.
            Memang Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk membalas kebaikan-Nya, namun kita harus menyadari apa yang sudah menjadi tugas kita sebagai anak-anak-Nya, yaitu tidak menyia-yiakan pengorbanan-Nya. Kedua tindakan di atas adalah sedikit contoh yang bisa kita lakukan untuk tidak menyia-yiakan pengorbanan-Nya dan memaknai momen natal lebih lagi. Mari kita berlomba-lomba untuk menjadi anak-anak Tuhan yang penuh dengan kemenangan dan mencapai garis akhir perlombaan. Selamat memaknai hari kelahiran Tuhan.

2 Timotius 4:7
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”

Selasa, 18 Desember 2018

Ketegasan yang Penuh Kasih Karunia

Tegas bukan berarti Marah, dan Menyakiti, Tuhan adalah Tuhan yang Tegas. 




Jika Kita bertanya pada diri sendiri sewaktu Kita masih disekolah dulu, apakah menurut Kita tentang Arti Ketegasan saya akan menyangkalnya. Saya, adalah Robert Cobra Jeferson. Sama seperti saudara sekalian yang  terkadang dan Harus mengikuti semua aturan yang berlaku ditempat sekolah kita tersebut dan dimanapun kita berada, Awalnya Tentu saja saya juga bukan seorang yang tegas! Bersikap tegas, bagi saya untuk mengikuti aturan dan mengerti arti ketegasan pada saat itu sangatlah sulit, namun saya juga harus dan diajarkan bagaimana menerapkan arti Ketegasan itu dari apa yang Kita dapatkan dari sekolah dan Pengalaman yang Kita dapatkan, ini semua berarti untuk tidak memaksa, kasar, tidak sopan dan bermusuhan. Tidak seharusnya Kita menjadi seperti itu. Dan, tentu saja tidak seharusnya seorang pengikut Kristus bersikap demikian.
Sekitar sepuluh tahun kemudian. Saya harus masuk ke dunia Pekerjaan atau karir yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, salah satu yang sangat cocok dengan kemampuan saya dan menantang saya secara signifikan. Anda tahu, beberapa orang dilahirkan bersifat tegas. Beberapa orang menjalani hidup mereka dengan mengusahakan supaya hal-hal terjadi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka memiliki kepribadian itu. Dulu, saya berpikir saya tidak seperti itu. Dulu, saya berpikir bahwa untuk bersikap tegas, orang harus dilahirkan dengan sifat itu. Saya Seorang yang emosional dan empatik, dan sangat mungkin bersifat terlalu sensitif. Sifat-sifat yang membuat saya menjadi orang yang menyenangkan, tapi tidak efektif.
Tetapi, selama sepuluh tahun terakhir ini, saya telah bertemu dengan beberapa Orang yang benar-benar mengubah pandangan saya tentang bagaimana seorang Kristen dipanggil untuk berperilaku. Mereka menantang saya, mendorong saya, melihat potensi di dalam diri saya, dan sangat tegas dengan saya. Dan, saya sangat bersyukur dan diberkati. Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari dari mereka sehingga sekarang saya sungguh mempercayai karir dan setiap Pelayanan saya, hubungan saya dan kehidupan saya dengan segenap hati ini saya persembahan bagi Saudara sekalian. 
Bersikap Tegas bukan berarti menjadi Timbul permusuhan. 
Bahkan, saya tidak percaya jika ketegasan adalah hal yang negatif sama sekali. Menurut definisi, artinya adalah percaya diri dengan yakin. Hanya ketika ketegasan melintasi ambang pintu ke dalam perilaku negatif maka kita menjadi kasar atau sombong. Bagi saya, sebagai seorang Kristen, percaya diri berarti saya yakin akan identitas saya di dalam Kristus dan Dia yang telah membuat saya seperti ini. Saya yakin bahwa saya bekerja keras, saya jujur, dan saya membawa perspektif yang unik dan berbagai keterampilan untuk ditunjukkan. Ini bukan berarti saya selalu benar. Tapi itu berarti bahwa saya memiliki hak untuk berkomunikasi dengan berani dan terbuka, dan saya dengan penuh kasih karunia dapat menuntut, dengan alasan, sehingga saya dihormati dan diperlakukan dengan sangat baik melalui memperlakukan orang lain dengan cara yang sama secara terbuka.
Menjadi tegas yang penuh kasih karunia diperlukan agar semua yang dikerjakan menjadi efektif
Orang-orang akan melewatkan Anda jika Anda membiarkan mereka. Entah Anda hanya mencoba untuk menghubungi perusahaan untuk memperbaiki Internet Anda, atau memulai sebuah pelayanan baru, sulit untuk mencapai apa pun tanpa tekad dan keyakinan. Kita terus berhubungan dengan orang yang tidak berbagi gairah yang sama dengan apa yang kita lakukan, orang yang tidak mengenal Tuhan dan hanya mencoba untuk melewati hari, dan orang yang tidak memenuhi harapan kita. Dalam beberapa kasus, kita menemukan orang-orang yang tidak suka atau tidak peduli dengan pekerjaan dan Pelayanan Kita sehingga menyulitkan kita yang menjadi pelanggan atau rekan kerja mereka. Saya telah banyak belajar dalam hal ini, bahwa kita harus tetap menjadi perwakilan dari kasih Kristus itu sendiri dan mencoba untuk menemukan kekuatan orang-orang, tapi ini bukan berarti kita harus berhenti dari bergerak maju. Menuntut kesempurnaan dari orang lain dengan cara yang penuh kasih terkadang merupakan satu-satunya cara untuk mencapai apa yang harus kita lakukan.
Di Alkitab, banyak pahlawan iman yang tegas. Mereka berhasil dalam pelayanan mereka karena mereka yakin akan panggilan Tuhan dalam hidup mereka dan menolak untuk dihentikan. Dalam cara yang sama, kita tidak boleh membiarkan rasa takut memaksa untuk menghentikan kita berbicara dengan terus terang, meminta untuk berbicara dengan Pimpinan, dengan penuh kasih karunia menyatakan bahwa hasil tidak dapat diterima, dan mencapai apa yang kita yakini sebagai panggilan yang harus kita Kerjakan begitupun dengan pelayanan. " Salah ya Katakan salah, Kalo Gak Boleh ya katakan gak boleh, Dosa ya, Tegas Bukan berarti Marah, dan Kita Jangan bermanis-manis tapi menyakitkan Hati seseorang"
Adanya ketegasan bukan berarti tidak adanya kerendahan hati kepada Sesama. 
Ketegasan dapat dengan cepat menjadi negatif jika kita lupa untuk tetap rendah hati dan mengambil sikap Perenungan, Hal ini mungkin tampak seperti sebuah kontradiksi, tetapi bertindak dengan keyakinan dan tekad seharusnya tidak berarti asumsi kita lebih baik atau lebih penting daripada yang lain. Sebaliknya, itu berarti menjadi berani dan percaya diri dalam Kristus, tetapi masih terbuka dan jujur terhadap kesalahan dan kekurangan. Itu berarti mengakui ketika kita salah dan menghargai orang di sekitar kita, bahkan dengan mereka yang tidak mudah untuk diajak bekerja sama, karena juga memiliki tujuan dan nilai yang besar.
Kemampuan untuk bersikap tegas dapat jadi Pengalaman yang bisa Kita pelajari
Beberapa pemimpin terbaik adalah mereka yang belum tentu tegas secara pembawaan. Saya suka mengaitkan Musa dalam hal ini. Dia takut dan tak percaya diri, tapi itu tidak menghentikan Tuhan untuk memakai dia. Musa belajar untuk bersikap tegas sebagai hasil dari panggilan Tuhan atas hidupnya. Mungkin Musa tidak merasa langsung merasa bahwa dia memiliki segalanya ketika untuk pertama kalinya berdiri di depan Firaun. Saya mulai mengembangkan kepercayaan diri sebagai hasil dari tanggung jawab di tempat kerja. Dulu saya benci berbicara dengan orang di telepon, benci menindaklanjuti ketika saya tidak mendapat jawaban dari seseorang yang tidak serius merespon apa yang yang jadi Tujuan dalam kebersamaan, benci mengatakan kepada penjual keliling bahwa saya tidak senang dengan pekerjaan mereka.
Keterampilan-keterampilan itu membutuhkan latihan, dan satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan melakukannya dan sekaligus bergantung pada kasih karunia Tuhan, Kalo saya tidak Melakukan berarti saya membiarkan yang salah, Saya sering menangis dalam beberapa pertemuan dan dalam Perenungan Pribadi kepada Allah, dimarahi, membuat rekan kerja saya marah, dan gagal melakukan tanggung jawab, begitupun dalam setiap Pelayanan Kita, Tak satu pun dari kita yang sempurna, tapi ini tidak bisa menghentikan kita dari berjuang untuk memenuhi harapan yang kita miliki untuk diri kita sendiri dan tanggung jawab yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.
Kita dipanggil untuk bersikap tegas
Sebagai Seorang Pengikut Kristus, kita sering mengacu pada Setiap Kita di Amsal 31 sebagai contoh yang Alkitabiah. Bacalah lagi - dan temukan semua ayat yang menunjukkan kemampuan Kita untuk menyediakan bagi keluarga Kita menyelesaikan tugas sehari-hari, dan setia melayani Bapa-nya. Sebutlah, "Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan...Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya." (Ayat 25 - 27). Tidak mungkin Kita, di Amsal 31 dapat mencapai apa yang dia lakukan tanpa bertindak dengan berani dan percaya diri dalam peran yang Tuhan berikan sesuai Talenta Kita. 
Sebagai orang Kristen, kita percaya hidup kita punya tujuan atas setiap yang Tuhan Percaya kan, Jika kita benar-benar percaya akan hal ini, kita harus waspada dalam membela kebenaran didalam Tuhan, Kita harus berani dalam hubungan kita kepada siapapun serta percaya diri dalam panggilan Pelayanan kita, dan tak kenal lelah dalam upaya kita untuk menjadi Pelayan-pelayannya Tuhan sesuai dengan yang direncanakan-Nya. Kita harus selalu "cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata" (Yakobus 1:19) - tapi ketika kita berbicara kita dipanggil untuk "buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." (Efesus 4:25).
Apakah orang-orang masih mengintimidasi dan Jadi Benci kepada Ketegasan saya? Ya. Apakah Kita Harus segan untuk bersikap tegas dalam situasi Pelayanan tertentu? Tentu saja. Apakah saya sering salah, bahkan ketika mengartikulasikan sesuatu yang saya percaya adalah benar? Ya. Tetapi semakin saya belajar untuk bersikap Tegas membuat saya semakin Tuhan mencurahkan kasih karunia-Nya pada saya dan semakin saya percaya bahwa dalam bersikap tegas mengenai iman saya, panggilan saya, tanggung jawab saya, karunia saya, dan identitas saya di dalam Kristus, semakin Dia bisa menggunakan saya, mengajari saya dan membuat saya bertumbuh dalam ketergantungan pada-Nya. Menjadi seorang Pelayan Tuhan yang percaya diri berarti mencari-cari dan bertindak di dalam identitas kekristenan kita sebagai Anak Raja yang dikasih. 
“Demikianlah besarnya keyakinan Kita kepada Allah oleh Kristus. Bahwa Kita tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.”- 2 Korintus 3: 4–5

Minggu, 16 Desember 2018

Pergumulan dalam Pelayanan Kita akan diubah Tuhan Jadi Berkat

*Percayalah Pada Tuhan, Maka Pergumulan dalam Pelayanan Kita akan diubah Tuhan Jadi Berkat.*



Dibuat Oleh *Robert Cobra Jeferson* 17-12-2018

Kita sebagai manusia tanpa terkecuali pasti sudah dan mungkin sementara sedang merasakan pergumulan dalam hidup.

Karena Pergumulan Kita itu tidak pernah terpisah atau tidak dapat dihindari dari setiap manusia.

Pergumulan di tengah-tengah hidup berkeluarga, pergumulan di dalam pekerjaan, pergumulan di tengah Pergumulan sebagai Orang Tua, Anak Muda, dll serta pergumulan di tengah setiap pelayanan dan sebagainya.

Dengan masalah yang dihadapi membuat manusia kadang berputus asa, hilang pengharapan.

Akibatnya, sadar ataupun tidak sadar kadang menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri dan bahkan menyalahkan Tuhan sebagai penyebab dari permasalahan dengan berpikir bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita, Tuhan sudah tidak peduli lagi dengan kita.

Pembacaan Artikel Saya yang sengaja saya buat Hari ini dapat memberi pengajaran dan motivasi bagi Saya dan kita semua ketika diperhadapkan dengan permasalahan atau pergumulan dalam hidup jangan pernah menyalahkan Tuhan karena Tuhan tidak pernah mengizinkan sesuatu yang buruk dalam hidup Saya dan kita semua.

Maka dalam situasi tertekan/terjepit karena pergumulan berserulah kepada Tuhan dan percayalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita karena  ketika Tuhan yang telah mengingizinkan masalah/pergumulan menjadi bagian dalam hidup kita, Dia jugalah yang akan terus menguatkan kita, yang akan terus memampukan kita dan menyertai kita melewati pergumulan seberat dan sesulit apapun itu.

Saya punya Prinsip dalam Doa setiap Pekerjaan yang Tuhan Percaya kan kepada Saya *"Masa Bodo dengan Apa Kata Orang, Saya Mah Apa Atuh.., Saya Mah Cuma Melayani Tuhan... bukan Mau Penghargaan & Perhatian dari Manusia."*

Sebab ketika kita menghadapi pergumulan dengan penuh kesabaran, ketabahan dan terus berharap kepada Tuhan yakinlah pergumulan akan diubah menjadi berkat dan iman percaya kita semakin dikuatkan dalam Tuhan. Amin... ☕💟🛐😍🙏🙏

Jumat, 30 November 2018

Cara Mengadakan Persekutuan Doa Yang Baik dan Benar








CARA MENGADAKAN PERSEKUTUAN DOA DENGAN BAIK DAN BENAR



Bagian 1 dari 3: Merencanakan Persekutuan Doa

Merasa terpanggil untuk menjadi penyelenggara persekutuan doa tapi tidak sepenuhnya tahu cara mengelolanya? Persekutuan doa adalah tempat orang-orang berkumpul dan bersatu dalam doa sebagai sebuah kelompok. Anda bisa mengadakan persekutuan doa yang bermanfaat bagi banyak orang dengan melakukan sedikit persiapan dan mengikuti langkah-langkah berikut.
1
Tentukan waktu yang tepat. Pada waktu-waktu tertentu, orang-orang tidak bisa datang ke persekutuan doa karena mereka sangat sibuk. Tentunya akan sulit mengajak orang ikut persekutuan doa jika kegiatan ini diadakan di pagi hari atau Jumat malam. Akan lebih baik jika kegiatan ini diadakan pada hari Minggu siang atau di malam hari (selain di akhir pekan) agar waktunya lebih sesuai bagi kebanyakan orang.
  • Pertimbangkan agar jadwal persekutuan doanya tidak bersamaan dengan jadwal ibadah rutin sehingga lebih sesuai bagi kebanyakan orang.
  • Persekutuan doa biasanya berlangsung selama satu jam, namun durasinya bisa disesuaikan dengan keinginan.

 








2
Libatkan pimpinan gereja. Bahkan jika Anda ingin menjadi penyelenggara persekutuan doa di luar gereja, Anda tetap harus melibatkan seorang pastor. Sekalipun ada orang lain yang bisa memimpin persekutuan doa, Anda harus melibatkan pimpinan gereja setempat agar orang-orang yang hadir mau menghargai keabsahan dari persekutuan doa yang mereka ikuti.
3
Tentukan tempatnya. Biasanya persekutuan doa diadakan di ruangan doa atau ruangan lainnya di gereja. Bisa juga Anda mengadakan persekutuan doa kecil di tempat lain seperti di rumah. Di mana pun lokasinya, pastikan tempatnya siap untuk menampung sebuah persekutuan dan areanya bersih agar sesuai sebagai tempat untuk berdoa.
    

4
Umumkan jadwal persekutuan doa ini kepada seluruh jemaat gereja. Buatlah pengumuman pada saat ibadah atau kirimkan surat dan surel (email.) Usahakan agar sebanyak mungkin orang bisa datang untuk mendukung doa-doa dalam persekutuan ini.



 
5
Ajaklah orang-orang secara langsung agar mereka merasa lebih terpanggil untuk datang. Kadang-kadang ada orang yang ragu untuk bergabung atau mencoba hal baru. Bicaralah kepada orang-orang secara individual sambil mengajak mereka agar mau datang ke persekutuan doa. Biasanya orang-orang ini hanya perlu sedikit diberikan dorongan untuk hadir. 


6
Tentukan tata cara pelaksanaannya. Anda bisa mengadakan doa bersama sebagai satu kelompok secara keseluruhan, tetapi jika kelompoknya besar, Anda bisa membaginya menjadi beberapa kelompok doa yang lebih kecil. Atau ada pilihan lain yaitu dengan meminta orang tertentu berdoa untuk tema tertentu atau meminta dua sampai tiga orang berdoa untuk tema tertentu, dan dua sampai tiga orang lainnya berdoa untuk tema yang berbeda.
  • Bisa juga Anda gunakan tata cara gabungan misalnya berdoa bersama pada awalnya lalu membentuk beberapa kelompok agar para jemaat yang hadir bisa berdoa untuk diri mereka masing-masing secara pribadi di dalam kelompok yang lebih kecil.
  

7
Siapkan dulu doa-doanya. Adanya perencanaan akan memperlihatkan perbedaan antara persekutuan doa yang hidup dan efektif dengan yang membosankan dan tidak efektif. Orang-orang akan membutuhkan panduan, kategori, contoh, dan tata cara berdoa. Anda perlu mengusahakan agar para jemaat tetap ingin berdoa dengan cara mempersiapkan doa-doanya terlebih dahulu. 
8
Pilihlah tema-tema yang akan didoakan. Pilihlah tema-tema tertentu untuk didoakan selama acara ini berlangsung. Tema yang dipilih ini harus ada relevansinya dengan orang yang berdoa dan mempunyai tujuan yang jelas sebab inilah yang akan menjaga motivasi mereka untuk tetap datang ke persekutuan dan berdoa bersama. 

Bagian 2 dari 3: Mengadakan Persekutuan Doa

1
Mulailah dengan keheningan selama 1-5 menit. Mulai berdoa dengan hening sesaat akan membuat seseorang terhubung dengan Tuhan melalui dirinya sendiri. Arahkan agar di saat ini para jemaat bisa sepenuhnya terfokus pada Tuhan.
  • Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan menyanyikan dua atau tiga lagu penyembahan sebelum doanya dimulai.


2
Berikan petunjuk singkat tentang cara berdoa. Beberapa petunjuk tentang cara berdoa yang disampaikan kepada para jemaat di awal acara akan sangat membantu sebab petunjuk ini bisa menjadi panduan dan memberikan rasa nyaman selama kegiatan berlangsung. Cara ini juga membuat mereka bersedia membuka diri dan lebih aktif berpartisipasi. 
3
Adakan diskusi singkat tentang doa-doa dan permohonan. Kadang-kadang akan terasa menyenangkan jika para jemaat diberi kesempatan menyampaikan ujud atau topik tertentu agar didoakan bersama. Namun berusahalah agar diskusi ini tidak berlangsung lebih dari lima menit sebab sebuah persekutuan doa akan sangat mudah teralihkan menjadi diskusi tentang doa dan bukannya memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh berdoa.


4
Bacalah kutipan singkat dari kitab suci. Membaca kutipan kitab suci bukanlah suatu keharusan tetapi cara ini dapat membantu para jemaat agar mereka lebih siap secara rohani. Pilihlah kutipan yang singkat; bacaan ini seharusnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dan tentunya tidak lebih dari 10 menit.
5
Berdoalah. Tujuan utama dari persekutuan doa adalah untuk berdoa. Jika para jemaat diberi kesempatan untuk menyampaikan doa-doa pribadi mereka masing-masing atau membaca ayat-ayat kitab suci yang panjang, ini bukan lagi sebuah persekutuan doa. Berusahalah menjaga agar selama acara ini berlangsung, fokusnya adalah doa.
6
Lakukan variasi. Buatlah persekutuan doa yang berbeda menggunakan cara berdoa yang berbeda. Adakan persekutuan doa dalam bentuk lain misalnya dengan berdoa melalui pujian, mengubah kelompok dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dan besar, berdoa terpimpin, atau berdoa dengan mengungkapkan penyesalan dan mengajukan permohonan.

7
Berikan kesempatan kepada para jemaat untuk berdoa secara singkat. Biarkan para jemaat berdoa sesuai keinginan mereka dan tidak mengharuskan setiap orang berdoa sesuai urutan dalam lingkaran. Cara ini akan menyita waktu, selain itu para jemaat hanya akan sibuk menyusun doa mereka pada saat gilirannya sudah dekat dan bukannya terlibat penuh dalam doa-doa.

8
Berdoalah hanya untuk topik tertentu. Pilihlah sebuah tema dan berdoalah dengan tema ini sampai selesai. Anda bisa berdoa dengan tema yang lain jika tema ini sudah selesai didoakan. Berusahalah agar doa-doanya terfokus pada topik tertentu agar para jemaat juga bisa lebih fokus dalam berdoa dan memperkuat doanya.

9
Jagalah agar doanya tetap mengalir. Berdoa selama satu jam sepertinya sulit dilakukan tetapi jika Anda membaginya menjadi doa-doa singkat seperti doa hening, doa terpimpin, doa dengan bacaan, doa dalam kelompok besar dan kecil, Anda bisa membawakannya dalam sesi-sesi yang lebih singkat. Jagalah agar doanya tetap mengalir dan dengan berjalannya waktu, berdoa selama satu jam tidak akan lagi terasa lama.
  • Selain itu, jangan takut dengan keheningan. Biarkan para jemaat menikmati waktu mereka dengan menghayati doa dan terhubung dengan perasaan mereka masing-masing.

10
Akhirilah persekutuan doa dengan cara yang bermanfaat dan bisa menutup acara ini dengan baik. Sebuah persekutuan doa sebaiknya diakhiri dengan membaca ayat-ayat kitab suci dengan topik yang relevan.

Bagian 3 dari 3: Melakukan yang Terbaik dalam Persekutuan Doa

 

1
Bersabar. Bagi beberapa orang, berdoa spontan pada awalnya bisa terasa sulit dan akan terasa canggung jika harus berdoa selama 30-60 menit. Teruslah berlatih. Kembangkan kemampuan Anda dalam memimpin doa dan kelompok doa Anda akan tumbuh bersama menjadi lebih kuat.

2
Hargailah spontanitas. Anda perlu membiarkan para jemaat merasa nyaman saat mereka berdoa agar persekutuan ini semakin fleksibel dan bermanfaat. Ciptakan lingkungan yang terbuka bagi setiap orang yang datang agar mereka bisa berdoa dengan sepenuh hati dan jiwanya, serta mendukung mereka untuk berpartisipasi.

3
Libatkan anak-anak jika kondisinya memungkinkan. Anak-anak bisa diajak ikut serta dalam persekutuan doa meskipun perhatian mereka biasanya mudah teralihkan. Ada anak-anak yang suka berdoa dengan suara lantang dan berpartisipasi penuh selama acara berlangsung sehingga memberikan kekuatan pada doa-doa mereka sebagai anak-anak.

4
Bersyukur. Setelah Tuhan menjawab doa-doa Anda, bersyukurlah dan ucapkan terima kasih. Ungkapkan perasaan-perasaan ini dalam kelompok sebagai bagian dari acara dalam persekutuan doa Anda.

5
Adakan perayaan setelah persekutuan doa selesai. Sediakan waktu untuk berkumpul setelah acara ini selesai. Siapkan makanan kecil atau makan malam seperti pizza dan es krim yang akan mempersatukan kelompok doa Anda dan membuat anak-anak merasa sangat gembira.

Tips:
  • Jika terjadi musibah, Anda bisa menyampaikan doa permohonan terlebih dahulu. Dalam kondisi yang berbeda, sebaiknya doa permohonan disampaikan terakhir sebab para jemaat mungkin akan mendoakan keinginan mereka selama acara berlangsung.
  • Jika Anda ingin melibatkan pihak lain sebagai bagian dari kelompok ini, dahulukan acara persekutuan doa. Tujuan utama dari persekutuan doa tidak boleh sampai terabaikan, berdoa.